NTT Catat Surplus Neraca Perdagangan Mencapai 34,71 Juta Dolar AS

Kinerja neraca perdagangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa pada periode Januari hingga Juli 2026, NTT mencatat surplus neraca perdagangan mencapai 34,71 juta dolar AS. Angka tersebut mencerminkan keberhasilan dalam sektor ekspor yang lebih dominan dibandingkan dengan impor, memberikan harapan bagi perekonomian daerah ini.
Surplus Neraca Perdagangan NTT: Angka dan Fakta
Kepala BPS NTT, Matamira B Kale, mengungkapkan bahwa neraca perdagangan luar negeri NTT selama tujuh bulan pertama tahun 2026 mencatat surplus sebesar 34,71 juta dolar AS. Nilai ekspor NTT tercatat mencapai 37,71 juta dolar AS, sedangkan nilai impor hanya 2,99 juta dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja ekspor yang lebih tinggi menjadi pendorong utama surplus tersebut.
Perbandingan Nilai Ekspor dan Impor
Meskipun surplus neraca perdagangan NTT sangat menggembirakan, ada penurunan nilai ekspor yang perlu diperhatikan. Data menunjukkan bahwa nilai ekspor NTT selama Januari hingga Juli 2026 mencapai 37,71 juta dolar AS, namun mengalami penurunan sebesar 10,43 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025. Hal ini menunjukkan adanya tantangan yang dihadapi oleh para pelaku ekspor di NTT.
Kontribusi Sektor Ekspor
Penurunan nilai ekspor ini sejalan dengan penurunan pada sektor nonmigas, yang tercatat sebesar 35,85 juta dolar AS atau mengalami penurunan 12,34 persen. Pada bulan Juli 2026, nilai ekspor NTT tercatat mencapai 5,68 juta dolar AS, mengalami penurunan sebesar 9,37 persen dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.
Detail Ekspor Nonmigas
Pada bulan Juli 2026, ekspor nonmigas mencapai 5,47 juta dolar AS, yang mengalami penurunan sebesar 10,07 persen. Namun, di balik penurunan ini, sektor migas menunjukkan peningkatan, dengan nilai ekspor sebesar 0,21 juta dolar AS, naik sebesar 13,70 persen secara tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat penurunan secara keseluruhan, ada potensi dalam sektor migas yang bisa dimanfaatkan lebih lanjut.
Dominasi Sektor Industri Pengolahan
Secara keseluruhan, selama periode Januari hingga Juli 2026, sektor industri pengolahan mendominasi ekspor NTT, memberikan kontribusi sebesar 82,24 persen, diikuti oleh sektor pertanian dengan kontribusi 10,67 persen, dan sektor pertambangan yang menyumbang 2,18 persen. Ini menunjukkan bahwa industri pengolahan menjadi pilar utama dalam perekonomian NTT.
Tren Ekspor di Bulan Juli
Untuk ekspor nonmigas pada bulan Juli 2026, barang hasil industri pengolahan menjadi yang paling dominan, dengan nilai mencapai 5,06 juta dolar AS. Meskipun terjadi penurunan sebesar 0,46 persen secara tahunan, secara kumulatif, nilai ekspor nonmigas mengalami penurunan sebesar 7,18 persen selama Januari hingga Juli 2026. Ini menandakan perlunya strategi baru untuk meningkatkan daya saing produk NTT di pasar global.
Komoditas Terbesar dalam Ekspor
Dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor tertinggi selama periode Januari hingga Juli 2026, terdapat peningkatan signifikan pada beberapa komoditas. Peningkatan tertinggi terjadi pada kapal terbang dan bagiannya (HS 88) yang meningkat sebesar 1,73 juta dolar AS atau 288,21 persen. Sementara itu, bahan bakar mineral (HS 27) dan kendaraan serta bagiannya (HS 87) masing-masing mengalami peningkatan sebesar 0,65 juta dolar AS (54,66 persen) dan 0,32 juta dolar AS (11,16 persen).
Negara Tujuan Ekspor Utama
Selama periode yang sama, tiga negara menjadi tujuan utama ekspor NTT. Timor Leste mencatat nilai ekspor tertinggi sebesar 30,44 juta dolar AS, yang berkontribusi 80,72 persen dari total ekspor NTT. Diikuti oleh Turki dengan nilai ekspor 2,28 juta dolar AS (6,06 persen) dan Jepang dengan nilai 1,08 juta dolar AS (2,86 persen). Hal ini menunjukkan pentingnya hubungan dagang NTT dengan negara-negara tersebut.
Analisis Impor NTT
Di sisi lain, nilai impor NTT selama Januari hingga Juli 2026 tercatat sebesar 2,99 juta dolar AS dengan volume mencapai 8.129,46 ton. Angka ini menunjukkan penurunan yang signifikan sebesar 49,91 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Penurunan yang tajam ini menunjukkan adanya pengurangan kebutuhan barang dari luar negeri oleh NTT.
Nilai Impor Bulan Juli
Pada bulan Juli 2026, nilai impor NTT tercatat mencapai 0,75 juta dolar AS, mengalami penurunan sebesar 60,6 persen dibandingkan bulan yang sama pada tahun 2025, di mana nilai impor mencapai 1,9 juta dolar AS. Penurunan ini menunjukkan bahwa NTT sedang mengurangi ketergantungan pada barang impor, yang dapat menjadi sinyal positif bagi perekonomian lokal.
SURPLUS NERACA PERDAGANGAN NTT
Terlepas dari penurunan dalam nilai ekspor dan impor, neraca perdagangan luar negeri NTT tetap menunjukkan surplus. Pada bulan Juli 2026, NTT mencatat surplus sebesar 4,93 juta dolar AS. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan dalam kinerja ekspor, surplus neraca perdagangan tetap dapat dipertahankan, menandakan adanya potensi yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi di NTT.
Dengan berbagai potensi yang ada, diharapkan pemerintah dan pelaku usaha dapat bersinergi untuk menciptakan strategi yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja ekspor NTT ke depan. Langkah-langkah inovatif dan dukungan kepada sektor-sektor unggulan akan sangat berpengaruh dalam menjaga dan meningkatkan surplus neraca perdagangan NTT di masa mendatang.
➡️ Baca Juga: Riezka Rahmatiana Mendorong Jawa Barat Menjadi Sentra Mandiri Bawang Putih Nasional
➡️ Baca Juga: Puncak Arus Balik pada Rute Belawan–Batam dan Perkembangannya di 2023




