BNPB Mempercepat Proses Rehab-Rekon Rumah yang Rusak Akibat Gempa di Flores NTT

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengerahkan timnya ke tujuh kabupaten yang terdampak oleh gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini diambil untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.
Komitmen BNPB dalam Proses Rehab Rumah Gempa Flores NTT
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan bahwa proses asesmen dan penilaian kerusakan rumah akan terus dilakukan meskipun masa tanggap darurat belum berakhir. Pendampingan ini bertujuan agar semua langkah yang diambil sesuai dengan standar yang ditetapkan dan dapat memberikan hasil yang optimal bagi masyarakat yang terdampak.
“BNPB berkomitmen untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi kerusakan rumah warga yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan keseriusan BNPB dalam menangani dampak bencana dan membantu pemulihan kehidupan masyarakat.
Data Kerusakan Rumah Akibat Gempa
Menurut data sementara yang diperoleh per 24 Agustus 2026, BNPB mencatat terdapat 77.912 unit rumah yang mengalami kerusakan di Flores. Rincian kerusakan tersebut meliputi:
- 24.597 unit rusak berat
- 18.537 unit rusak sedang
- 34.778 unit rusak ringan
Data ini menggambarkan besarnya dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam tersebut dan pentingnya langkah cepat dalam rehabilitasi rumah-rumah yang rusak.
Penyebaran Kerusakan di Tujuh Kabupaten
Kerusakan rumah tersebar di berbagai kabupaten, dengan Kabupaten Manggarai Timur mencatat angka tertinggi. Rincian kerusakan di setiap kabupaten adalah sebagai berikut:
- Kabupaten Manggarai Timur: 6.833 unit rusak berat, 4.996 unit rusak sedang, dan 6.973 unit rusak ringan
- Kabupaten Manggarai: 6.360 unit rusak berat, 5.196 unit rusak sedang, dan 5.552 unit rusak ringan
- Kabupaten Manggarai Barat: 3.732 unit rusak berat, 2.014 unit rusak sedang, dan 5.067 unit rusak ringan
- Kabupaten Nagekeo: 3.218 unit rusak berat, 1.598 unit rusak sedang, dan 4.828 unit rusak ringan
- Kabupaten Ngada: 2.256 unit rusak berat, 2.116 unit rusak sedang, dan 5.190 unit rusak ringan
- Kabupaten Ende: 1.208 unit rusak berat, 1.725 unit rusak sedang, dan 4.547 unit rusak ringan
- Kabupaten Sikka: 990 unit rusak berat, 892 unit rusak sedang, dan 2.621 unit rusak ringan
Angka-angka tersebut menunjukkan tantangan besar yang harus dihadapi dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi rumah-rumah warga pascagempa.
Pelatihan dan Pendampingan untuk Relawan
Berton menegaskan pentingnya memastikan keakuratan data yang diperoleh. Oleh karena itu, BNPB mengadakan bimbingan teknis untuk Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan ratusan relawan enumerator di tujuh kabupaten terdampak. Pelatihan ini sudah dimulai di Manggarai Barat dan Manggarai, bertujuan untuk meningkatkan kualitas data yang dikumpulkan berdasarkan nama dan alamat.
Prinsip Build Back Better dalam Proses Rehab Rumah
Proses pemulihan yang dilakukan oleh BNPB mengusung prinsip “build back better”. Artinya, rumah yang dibangun kembali harus memiliki ketahanan lebih baik dibandingkan sebelumnya. Ini penting agar hunian yang dibangun tidak hanya sekadar menggantikan yang rusak, tetapi juga dapat bertahan dari bencana di masa depan.
Data yang dikumpulkan harus bersifat objektif, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini penting agar hasil dari lapangan dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang tepat dan efektif.
Proses Pengambilan Keputusan yang Berbasis Data
“Data yang dihasilkan dari lapangan harus berkualitas tinggi dan dapat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan,” tambah Berton. Dengan memiliki data yang akurat, BNPB dapat menentukan langkah-langkah yang tepat dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi rumah warga yang terdampak.
Harapan untuk Masyarakat Terdampak
BNPB berkomitmen untuk terus mendukung masyarakat yang terkena dampak gempa melalui serangkaian program pemulihan. Harapannya, melalui proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang cepat dan efektif, kehidupan masyarakat dapat kembali normal secepat mungkin.
Melalui kerja sama yang solid antara BNPB, pemerintah daerah, serta relawan, diharapkan proses rehab rumah gempa Flores NTT dapat berjalan lancar dan memenuhi harapan masyarakat. Komitmen dan dedikasi semua pihak adalah kunci untuk mengembalikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang terdampak.
Menjaga Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Selanjutnya
Selain fokus pada rehabilitasi dan rekonstruksi, BNPB juga berupaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana di masa depan. Edukasi mengenai mitigasi bencana dan pelatihan kesiapsiagaan harus terus dilakukan agar masyarakat dapat lebih siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana serupa di masa mendatang.
Dengan langkah-langkah yang tepat dan kolaborasi yang baik, diharapkan masyarakat Flores NTT dapat bangkit kembali dan lebih tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.
➡️ Baca Juga: Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor yang Beroperasi di 14 Lokasi Berbeda
➡️ Baca Juga: Pendampingan Psikososial untuk Lansia Terdampak Gempa Manggarai Jadi Prioritas Khofifah




