Pendeta GPdI Sulut: Paskah Mengajarkan Manusia untuk Hidup Sederhana dan Bermakna

Paskah adalah perayaan yang sarat makna, bukan sekadar momen hura-hura. Pendeta Gembala Jefry Manitik dari Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Tiberias Malalayang Manado, Sulawesi Utara, mengingatkan umat untuk merenungkan esensi sejati dari perayaan ini. Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk memahami bagaimana Paskah mengajak kita untuk menjalani kehidupan yang sederhana namun penuh makna.
Pentingnya Kesederhanaan dalam Perayaan Paskah
Paskah, yang memperingati kebangkitan Yesus Kristus, seharusnya tidak hanya dipahami sebagai perayaan yang penuh dengan kemeriahan dan seremonial. Menurut Manitik, perayaan ini seharusnya dimaknai dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. “Mari kita maknai Paskah dengan hidup yang sederhana dan berbagi dengan sesama yang membutuhkan,” tegasnya saat memberikan khotbah kepada jemaat pada hari Minggu.
Teladan Kristus dalam Kesederhanaan
Dalam khotbahnya, Manitik merujuk pada ayat Alkitab 1 Korintus 15 ayat 4 yang menegaskan bahwa Yesus bangkit pada hari ketiga. Dengan mengingat momen ini, ia mengajak jemaat untuk meneladani perjalanan Yesus dalam memberitakan Injil kepada semua orang. “Kesederhanaan dalam hidup kita adalah refleksi dari perjalanan Yesus 2.000 tahun yang lalu,” ujarnya, mengajak jemaat untuk menghayati makna kasih dalam hidup mereka.
Membangun Relasi yang Damai
Manitik juga mengajak umat untuk menjadikan Paskah sebagai momentum untuk membangun relasi yang harmonis. Ini bukan hanya hubungan dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama manusia, diri sendiri, dan lingkungan sekitar. Kesederhanaan dalam hidup dapat menciptakan kedamaian, yang sangat dibutuhkan di dunia yang penuh dengan ketegangan saat ini.
Refleksi atas Peristiwa Alam
Dalam konteks yang lebih luas, Manitik mencatat peristiwa gempa bumi yang mengguncang Sulawesi Utara dengan magnitudo 7,6 pada Kamis (2/4). Kejadian ini mengingatkan kita akan ketidakpastian hidup dan pentingnya berserah kepada Tuhan. “Ini adalah pengingat bagi kita semua, kepada siapa kita seharusnya berserah,” tambahnya.
Simbolisme Telur Paskah
Pada kebaktian Paskah di GPdI Tiberias Malalayang, pembagian telur menjadi salah satu simbol yang menggambarkan makna hidup dan kebangkitan. Telur tersebut diartikan sebagai simbol kehidupan baru dan harapan. Seluruh jemaat menerima telur ini sebagai pengingat akan kebangkitan Yesus dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Tradisi Pembagian Telur di Gereja Lain
Bukan hanya di GPdI Tiberias, sejumlah gereja lain di Manado juga melaksanakan tradisi yang sama dengan membagikan telur Paskah. Telur yang dihias dengan warna-warni ini disertai dengan ayat-ayat Alkitab, memperkaya makna kebangkitan yang dirayakan.
- Telur Paskah sebagai simbol kehidupan baru
- Tradisi menghias telur di berbagai gereja
- Pentingnya berbagi dalam perayaan Paskah
- Refleksi spiritual selama momen Paskah
- Perayaan yang mengajak untuk hidup sederhana
Pawai Obor Sebelum Paskah
Menjelang Paskah, jemaat di Malalayang juga melaksanakan pawai obor yang mengelilingi sebagian kecamatan. Pawai ini menjadi salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur dan mengingat kembali makna kebangkitan Kristus. Salah satu jemaat dari Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) Malalayang, Tika S, mengungkapkan, “Pembagian telur usai ibadah adalah simbol dari kebangkitan Yesus yang sangat berarti bagi kami.”
Paskah seharusnya menjadi waktu untuk merenungkan kembali nilai-nilai kehidupan yang sederhana dan berbagi dengan sesama. Dengan mengikuti teladan Yesus Kristus, kita diajak untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga menjalani kehidupan yang penuh makna dan kedamaian. Dalam setiap tindakan kecil kita, terdapat potensi untuk menciptakan dampak yang besar bagi dunia di sekitar kita.
➡️ Baca Juga: Strategi Produktivitas Harian untuk Mengelola Waktu Kerja dengan Efektif dan Fokus
➡️ Baca Juga: 4 Langkah Efektif Mendapatkan Saldo DANA Gratis Hingga Rp175 Ribu dengan Cepat dan Mudah




