Pemulihan Gambut Memerlukan Investasi Besar, Wamenko Pangan Ungkap Skema Pembiayaan

Jakarta – Dalam upaya memperbaiki kondisi lahan gambut yang terdegradasi, Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan beberapa pendekatan dalam pembiayaan pemulihan gambut. Pendekatan ini mencakup kewajiban bagi pemegang konsesi, dukungan dari pemerintah, serta peluang pendanaan internasional dan instrumen nilai ekonomi karbon. Pemulihan gambut yang efektif memerlukan kolaborasi dari berbagai sektor untuk memastikan keberlanjutan ekosistem dan pencegahan kebakaran yang berulang.
Pentingnya Pembiayaan untuk Pemulihan Gambut
Hanif Faisol menekankan bahwa pembiayaan yang bersumber dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah lahan gambut yang telah mengalami degradasi. Hal ini juga bertujuan untuk memperkuat upaya pencegahan kebakaran yang sering terjadi di kawasan tersebut.
“Sektor pembiayaan memiliki beberapa pendekatan yang dapat diambil,” ungkap Hanif dalam keterangan pers setelah rapat koordinasi terkait penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jakarta. Penjelasannya menunjukkan bahwa ada beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan dalam upaya pemulihan gambut.
Pendekatan Kewajiban Pemegang Konsesi
Salah satu pendekatan yang diusulkan adalah kewajiban bagi pemegang konsesi yang beroperasi di wilayah gambut dan sekitarnya. Mereka diwajibkan untuk melakukan pengelolaan tata air yang tepat dan menjalankan program pemberdayaan masyarakat setempat. Kewajiban ini dianggap sebagai langkah awal yang penting dalam menjaga ekosistem gambut dan meminimalkan risiko kebakaran yang sering menghantui kawasan tersebut.
“Pendekatan ini bersifat mandatori, yang artinya semua pemegang konsesi yang beroperasi di lahan gambut harus melaksanakan manajemen air dan membangun kembali kapasitas masyarakat sekitar,” papar Hanif. Ia menegaskan bahwa kontribusi dari para pemegang konsesi dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan yang bermanfaat untuk menjaga kondisi ekosistem gambut.
Dukungan dari Pemerintah
Selain pendekatan dari pemegang konsesi, pemerintah juga berperan melalui dukungan pembiayaan dan kelembagaan. Dukungan ini diperlukan untuk mengelola dan memulihkan ekosistem gambut secara berkelanjutan. Hanif menambahkan, peran pemerintah dalam hal ini sangat krusial, mengingat tanggung jawab besar yang dimiliki dalam pengelolaan lingkungan.
“Pemerintah harus memberikan dukungan yang memadai untuk memastikan bahwa pengelolaan ekosistem gambut berjalan sesuai dengan yang diharapkan,” ujarnya, menekankan pentingnya kolaborasi antara sektor publik dan swasta dalam upaya pemulihan gambut.
Peluang Pendanaan Internasional
Di samping dukungan domestik, terdapat pula peluang pendanaan dari sumber internasional. Dalam konteks ini, Hanif menekankan pentingnya mengembangkan instrumen ekonomi hijau yang berkaitan dengan pemulihan gambut. Upaya ini sejalan dengan komitmen global untuk mengendalikan emisi gas rumah kaca, yang menjadi salah satu isu utama dalam perubahan iklim saat ini.
“Dari sisi ekonomi hijau, kontribusi internasional sangat signifikan. Ada perhatian besar dari negara-negara lain terhadap isu gambut,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan gambut bukan hanya merupakan tanggung jawab lokal, tetapi juga menjadi perhatian global yang memerlukan kerjasama lintas negara.
Menjaga Tata Kelola Pembiayaan
Hanif juga menekankan pentingnya menjaga tata kelola dalam penggunaan dana, terutama yang bersumber dari bantuan internasional. Ia mengingatkan bahwa transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan dana tersebut sangat penting agar manfaatnya dapat dirasakan secara nyata dalam pemulihan lingkungan.
“Kita perlu memastikan integritas dana yang masuk dan sudah ada di kita. Ini akan memastikan bahwa dana tersebut digunakan untuk tujuan yang benar dan memberikan dampak positif,” jelasnya. Pengawasan yang ketat akan membantu mencegah penyalahgunaan dana yang dapat merugikan upaya pemulihan gambut.
Instrumen Nilai Ekonomi Karbon
Wamenko Pangan juga menggarisbawahi potensi pemanfaatan instrumen nilai ekonomi karbon. Hal ini merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 yang mengatur penyelenggaraan instrumen nilai ekonomi karbon dan pengendalian emisi gas rumah kaca di Indonesia. Instrumen ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mendanai pemulihan gambut.
“Kami terbuka untuk menjalin kerjasama dalam pemanfaatan instrumen ini. Contohnya, kerja sama dengan PT PLN (Persero) untuk memenuhi kebutuhan investasi yang berkaitan dengan pengurangan emisi,” ujarnya. Kerja sama semacam ini dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus lingkungan yang signifikan.
Investasi dalam Negeri vs. Luar Negeri
Hanif mengungkapkan bahwa sebaiknya investasi dalam negeri lebih diutamakan daripada membeli karbon offset dari luar negeri yang biayanya lebih tinggi. “Lebih baik kita berinvestasi di dalam negeri, karena potensi kita cukup besar,” tambahnya. Pendekatan ini tidak hanya akan mendukung pemulihan gambut, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal.
Dengan memanfaatkan potensi yang ada di dalam negeri, diharapkan pemulihan gambut dapat dilakukan secara efektif dan berkelanjutan. Ini juga akan menciptakan peluang kerja bagi masyarakat di sekitar kawasan gambut, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan mereka.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, pemulihan gambut memerlukan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif antara berbagai pemangku kepentingan. Pembiayaan dari pemegang konsesi, dukungan pemerintah, dan peluang pendanaan internasional merupakan langkah-langkah strategis yang harus dilakukan. Selain itu, menjaga tata kelola yang baik dalam penggunaan dana dan memanfaatkan instrumen nilai ekonomi karbon akan menjadi kunci keberhasilan dalam upaya ini.
Dengan langkah-langkah yang tepat, pemulihan gambut tidak hanya akan memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga bagi masyarakat yang bergantung pada ekosistem tersebut. Mari kita bersama-sama berupaya menjaga dan memulihkan lahan gambut demi masa depan yang lebih baik.
➡️ Baca Juga: Pertamina Perpanjang Sistem Ganjil-Genap untuk Cegah Antrean Panjang di SPBU Sintang
➡️ Baca Juga: Xiaomi 18 Fold Resmi Diluncurkan pada September dengan Chip Xring O3 yang Canggih




