Kamboja Mendorong Thailand untuk Melanjutkan Proses Perundingan dengan Segera
PHNOM PENH – Kamboja telah memberikan dorongan kuat kepada Thailand untuk segera melanjutkan proses perundingan mengenai sengketa perbatasan antara kedua negara. Perselisihan yang telah berlangsung lama ini menyebabkan beberapa insiden kekerasan yang mengakibatkan korban jiwa pada tahun 2025 silam.
Pernyataan Perdana Menteri Kamboja
Pada hari Sabtu, 11 April, Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menyampaikan harapannya agar kedua negara dapat bekerja sama dengan segera dan dengan semangat yang tulus. Dalam pernyataannya yang diunggah di media sosial, PM Manet menekankan pentingnya kolaborasi untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan di sepanjang perbatasan yang menjadi tempat tinggal masyarakat kedua negara.
“Ini akan menjadi fondasi untuk menciptakan perdamaian jangka panjang, memungkinkan masyarakat kita yang tinggal di sepanjang perbatasan untuk hidup dalam harmoni. Kamboja sepenuhnya siap untuk berdialog,” ungkapnya.
Respon Menteri Luar Negeri Thailand
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menyatakan bahwa negara mereka belum dalam posisi untuk melanjutkan perundingan meskipun pemerintahan baru telah dibentuk. Ketika dihadapkan dengan permintaan Kamboja untuk segera mengadakan negosiasi, Sihasak mengakui hak Kamboja untuk meminta dialog, namun menekankan bahwa Thailand memiliki prosedur internal yang harus diikuti sebelum melanjutkan pembicaraan.
Sejarah Sengketa Perbatasan
Kedua negara di Asia Tenggara ini telah terjebak dalam sengketa mengenai demarkasi perbatasan sepanjang 800 kilometer yang merupakan warisan dari era kolonial Perancis. Meskipun sebagian besar garis perbatasan telah disepakati, beberapa bagian masih diperdebatkan, terutama akibat perbedaan interpretasi peta-peta lama yang berasal dari masa kolonial.
- Sengketa melibatkan peta-peta kuno yang berbeda interpretasinya.
- Sejumlah titik perbatasan masih belum jelas hingga saat ini.
- Konflik sering kali berasal dari warisan sejarah yang rumit.
- Kedua negara memiliki kepentingan nasional yang tinggi terhadap wilayah yang disengketakan.
- Sejarah panjang perselisihan ini menciptakan ketegangan yang berkepanjangan.
Dampak dari Perselisihan
Perseteruan ini telah memicu beberapa bentrokan yang mengakibatkan puluhan korban jiwa dan memaksa lebih dari satu juta orang mengungsi pada bulan Juli dan Desember tahun 2025. Konflik yang paling mencolok terjadi di sekitar Candi Preah Vihear, sebuah situs arkeologi Hindu kuno yang terletak di tebing. Kedua negara saling mengklaim bahwa wilayah tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang mendalam, yang terkait erat dengan identitas nasional mereka.
Mahkamah Internasional dan Keputusan
Isu sengketa ini juga pernah dibawa ke Mahkamah Internasional, yang pada tahun 1962 memutuskan untuk menguntungkan Kamboja. Namun, tanah di sekitar kuil tetap menjadi subjek perselisihan, dengan kedua negara masih mengklaim hak atas wilayah tersebut. Meskipun ada perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada akhir Desember lalu, ketegangan di perbatasan tetap ada, dengan kedua pihak saling menuduh pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.
Kamboja mengklaim bahwa pasukan Thailand telah mengambil alih beberapa wilayah di provinsi perbatasan yang seharusnya dilindungi oleh perjanjian tersebut, dan mendesak agar pasukan Thailand ditarik kembali.
Insiden-insiden Sebelumnya
Sejarah konflik antara Kamboja dan Thailand tidak hanya dimulai baru-baru ini. Salah satu insiden berdarah pertama terjadi pada bulan Oktober 2008, ketika Kamboja mengajukan Kuil Preah Vihear sebagai situs warisan dunia UNESCO. Tindakan ini memicu protes di Thailand dan berujung pada bentrokan kekerasan yang mengakibatkan kematian dua tentara Kamboja dan satu tentara Thailand.
Selanjutnya, pada bulan Februari 2011, baku tembak antara militer kedua negara kembali terjadi, menewaskan setidaknya delapan orang dan mengakibatkan ribuan orang mengungsi. Kedua pihak saling menuduh menggunakan sistem roket multi-peluncuran dan amunisi yang dilarang. Ketegangan meningkat hingga bulan Mei, dengan total korban jiwa mencapai 34 orang.
Perspektif Masa Depan
Dengan latar belakang konflik yang berkepanjangan, penting bagi Kamboja dan Thailand untuk menemukan jalan menuju dialog yang konstruktif. Melanjutkan perundingan adalah langkah awal yang krusial untuk meredakan ketegangan dan membangun hubungan yang lebih baik di antara kedua negara. Dalam konteks global yang terus berubah, stabilitas di kawasan ini menjadi semakin penting.
Pemerintah Kamboja menunjukkan komitmen untuk menyelesaikan masalah ini dengan pendekatan yang damai. Diharapkan, dengan adanya niat baik dari kedua belah pihak, proses perundingan dapat dimulai kembali, demi kepentingan masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan yang selama ini tertekan akibat ketegangan yang berkepanjangan.
Pentingnya Kerja Sama Regional
Di tengah ketegangan ini, kerja sama regional menjadi semakin penting. Kamboja dan Thailand, sebagai sesama anggota ASEAN, memiliki tanggung jawab untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan. Melalui dialog dan kolaborasi, kedua negara dapat menemukan solusi yang saling menguntungkan untuk masalah yang ada.
Kerja sama ini tidak hanya akan menguntungkan Kamboja dan Thailand, tetapi juga dapat memperkuat posisi ASEAN di panggung internasional, menunjukkan bahwa negara-negara anggota dapat menyelesaikan permasalahan mereka secara damai dan konstruktif.
Langkah-langkah untuk Mencapai Perdamaian
Agar mencapai perdamaian yang langgeng, kedua negara perlu melakukan beberapa langkah strategis, antara lain:
- Membentuk tim negosiasi yang terdiri dari para ahli hukum dan diplomat berpengalaman.
- Mengadakan pertemuan rutin untuk membahas isu-isu yang belum terselesaikan.
- Melibatkan pihak ketiga yang netral untuk memfasilitasi dialog.
- Membangun kepercayaan melalui kegiatan pertukaran budaya dan ekonomi.
- Meningkatkan komunikasi antar militer untuk mencegah insiden yang tidak diinginkan.
Dengan pendekatan yang tepat dan komitmen dari kedua belah pihak, Kamboja dan Thailand dapat membuka halaman baru dalam hubungan mereka dan menciptakan masa depan yang lebih damai dan stabil bagi masyarakat di sepanjang perbatasan.
➡️ Baca Juga: BMKG Ramalkan Hujan di Sebagian Wilayah Jakarta pada Hari Sabtu Mendatang
➡️ Baca Juga: Menhan Sambut Kunjungan Wakil Perdana Menteri Australia Secara Resmi