PBB Lapor Suhu Global Melebihi 1,5 Derajat Celsius, Meningkatkan Risiko Bencana dan Kesehatan

PBB baru-baru ini mengeluarkan laporan yang mengkhawatirkan mengenai suhu global yang diperkirakan akan melampaui 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri dalam waktu dekat. Peningkatan suhu ini tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko bencana alam dan masalah kesehatan yang serius. Dalam konteks perubahan iklim yang semakin mendesak, langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini menjadi sangat penting.
Pentingnya Menjaga Suhu Global di Bawah 1,5 Derajat Celsius
Laporan yang diterbitkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Program Lingkungan (UNEP) pada tanggal 2 September menggarisbawahi bahwa penurunan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius atau bahkan lebih rendah pada akhir abad ini sangat diperlukan untuk mengurangi risiko dan dampak dari perubahan iklim. Jika suhu global terus meningkat, dampak yang ditimbulkan akan semakin parah dan sulit untuk diatasi.
Sejarah Perjanjian Paris
Lebih dari satu dekade yang lalu, sekitar 190 negara, termasuk Jepang, menandatangani Perjanjian Paris, sebuah kesepakatan internasional yang bertujuan untuk membatasi kenaikan suhu global hingga maksimal 1,5 derajat Celsius. Dengan tujuan ini, para negara berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan berupaya menuju keberlanjutan lingkungan.
Akhir Zaman Batas Emisi?
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menekankan pentingnya tindakan segera dengan mengatakan, “Gelombang panas yang ekstrem, kebakaran hutan yang melanda, dan banjir yang mematikan di musim panas ini adalah peringatan akan apa yang akan datang. Kita harus berusaha untuk membatasi pelampauan suhu 1,5 derajat Celsius sekecil dan sesingkat mungkin.” Guterres menyerukan keberanian dan tekad yang lebih besar dari semua negara untuk mencapai ambisi ini.
Proyeksi Pemanasan Global
Menurut laporan yang sama, jika kebijakan saat ini tetap diterapkan, suhu global dapat diproyeksikan mencapai sekitar 2,6 derajat Celsius pada tahun 2100. Ini adalah angka yang sangat mengkhawatirkan, yang menunjukkan bahwa tanpa tindakan yang lebih agresif, kita akan menghadapi konsekuensi yang jauh lebih serius.
Emisi Gas Rumah Kaca dan Dampaknya
Walaupun semua negara peserta memenuhi target pengurangan emisi gas rumah kaca, dan berupaya mencapai emisi nol bersih melalui penyerapan karbon oleh hutan dan sistem lainnya, suhu masih diperkirakan akan meningkat sekitar 1,8 derajat Celsius. Ini menandakan bahwa bahkan dengan usaha terbaik sekalipun, kita masih menghadapi tantangan besar.
Risiko Lingkungan dan Kesehatan
Peningkatan suhu global yang signifikan ini akan memperburuk berbagai masalah, termasuk:
- Peningkatan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem
- Kerusakan ekosistem yang cepat
- Ancaman terhadap negara-negara kepulauan kecil yang berisiko tenggelam
- Dampak negatif pada kesehatan manusia
- Gangguan pada ketahanan pangan dan pasokan air
Risiko-risiko ini tidak hanya mengancam lingkungan tetapi juga mengganggu kehidupan sehari-hari dan infrastruktur masyarakat.
Dampak Kenaikan Suhu 3 Derajat Celsius
Jika suhu global meningkat hingga 3 derajat Celsius pada abad ini, diperkirakan gletser akan kehilangan lebih dari seperempat massanya pada tahun 2100. Ini akan mengakibatkan kenaikan permukaan laut yang signifikan, antara 9 hingga 13 sentimeter, yang akan memperburuk kondisi negara-negara pesisir.
Peristiwa Cuaca Ekstrem yang Meningkat
Profesor Richard Betts dari University of Exeter, yang turut berkontribusi dalam laporan tersebut, mengungkapkan bahwa kenaikan suhu ini dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya bencana alam seperti banjir bandang yang terjadi di Nepal dan China pada bulan Agustus lalu. “Kita dapat mencegah keadaan menjadi lebih buruk dengan mengurangi emisi dan membatasi jumlah pemanasan,” kata Betts, menekankan pentingnya tindakan yang segera.
Mengatasi Kelebihan Karbon dioksida
Laporan tersebut juga menekankan bahwa untuk mengembalikan suhu setelah melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius, kita perlu memastikan bahwa jumlah karbon dioksida yang diserap atau dihilangkan melebihi jumlah emisi yang dihasilkan. Ini adalah langkah yang krusial untuk menjaga stabilitas iklim di masa depan.
Pentingnya Pengurangan Emisi
Namun, penting untuk dicatat bahwa pengurangan karbon dioksida harus dianggap sebagai langkah tambahan, bukan sebagai pengganti dari upaya utama untuk mengurangi emisi secara keseluruhan. Pendekatan yang terintegrasi dan menyeluruh adalah kunci untuk menghadapi tantangan perubahan iklim ini.
Dengan mempertimbangkan semua fakta dan data ini, jelas bahwa tindakan kolektif dan komitmen yang kuat dari seluruh negara sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Kita harus mendengarkan peringatan yang diberikan oleh para ilmuwan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa kita tidak hanya menjaga suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius, tetapi juga melindungi planet kita untuk generasi mendatang.
➡️ Baca Juga: Orlando Magic Raih Kemenangan Tipis Melawan Sacramento Kings dengan Skor 121-117
➡️ Baca Juga: THR Cepat Habis? Ini Cara Mengelolanya Agar Tetap Aman Setelah Lebaran




