Cinematographer Oscar Ungkap Teknik Efektif Menarik Perhatian Penonton di ‘Project Hail Mary’ Tanpa CGI

Greig Fraser, seorang sinematografer berpengalaman, telah bekerja di banyak film terkenal seperti “The Batman,” “Dune,” dan “Rogue One.” Namun, proyek terbarunya, “Project Hail Mary,” ia sebut sebagai tantangan terbesar dalam karirnya. Film ini bukan hanya sekadar karya visual, melainkan juga sebuah eksplorasi teknik cinematography yang mendalam dan inovatif.
Pengenalan ‘Project Hail Mary’
“Project Hail Mary” diadaptasi dari novel karya Andy Weir dengan judul yang sama, disutradarai oleh Phil Lord dan Chris Miller. Dalam film ini, Ryan Gosling berperan sebagai Ryland Grace, seorang guru sains yang juga mantan ahli biologi molekuler, yang ditugaskan oleh pemerintah untuk menyelamatkan Bumi dari ancaman kepunahan. Tanpa disangka, Ryland terjebak dalam misi luar angkasa yang membawanya berinteraksi dengan makhluk asing bernama Rocky.
Revolusi Visual Luar Angkasa
Film ini menantang konvensi visual yang sering diasosiasikan dengan luar angkasa. Alih-alih menggunakan palet warna dingin dan redup, “Project Hail Mary” memilih warna-warna hangat, seperti oranye, yang memberikan nuansa berbeda dan menarik bagi penonton.
Tantangan Pencahayaan di Terowongan
Salah satu adegan yang menarik perhatian adalah ketika Grace memasuki terowongan untuk pertama kalinya dan bertemu dengan Rocky. Fraser menjelaskan bahwa terowongan tersebut mengalami proses evolusi dalam desainnya. “Kami harus menyelidiki apa itu xenonit,” ujarnya, merujuk pada material yang digunakan dalam pembuatan terowongan. “Matahari harus bisa menembusnya, tetapi itu menjadi tantangan mengingat panjang terowongan mencapai 70 kaki.”
Menerangi Terowongan yang Menakutkan
Dalam sebuah diskusi dengan Variety, Fraser membagikan tantangannya terkait pencahayaan terowongan. “Di masa lalu, pencahayaan dilakukan dengan menempatkan lampu pada bingkai dan menggerakkannya. Namun, kami harus memastikan seluruh terowongan terpapar sinar matahari.”
Fraser menggambarkan suasana terowongan yang seharusnya terasa menakutkan, mirip dengan pengalaman menyelam ke dalam kegelapan di kapal selam. “Kami mengambil inspirasi dari rekaman kapal selam yang menyelam ke kedalaman tanpa cahaya, hanya diterangi oleh lampu dari kapal atau lampu kepala.”
Inovasi dalam Pencahayaan
Fraser dan timnya menciptakan solusi pencahayaan yang inovatif menggunakan lampu tungsten tua dalam jumlah besar. “Kami tidak dapat memperoleh cukup lampu LED untuk proyek ini. Jadi, kami menggunakan lampu tungsten kuno dan memetakan pikselnya agar sinar matahari dapat diarahkan sesuai kebutuhan.”
Penggunaan Filter Warna
Fraser juga menemukan filter pelangi yang cantik secara online, yang menghasilkan efek warna-warni yang menarik di sepanjang film. “Filter ini menciptakan garis-garis pelangi yang indah pada bagian yang terang, dan itu menjadi tema visual yang konsisten dalam film.”
Teknik Lensa yang Unik
Setelah menemukan cara untuk menerangi terowongan, Fraser memikirkan tentang teknik untuk “memampatkan lensa secara vertikal daripada horizontal.” Ia menjelaskan, “Kami merekam dengan kamera Alexa 65, yang memiliki sensor layar lebar, tetapi kami memampatkannya untuk memberikan tampilan yang lebih tinggi. Ini memberikan efek visual yang sempurna, karena semua cahaya yang menyala mengarah secara vertikal.”
Kolaborasi dengan Tim Produksi
Kerja sama dengan perancang produksi, Charles Wood, menjadi kunci untuk mencapai efek pencahayaan yang diinginkan. “Kami bekerja sama dengan Charlie untuk memastikan lapisan di dalam terowongan memungkinkan cukup cahaya masuk, namun tidak terlalu banyak sehingga tampak transparan.”
- Pengujian yang intensif untuk mendapatkan keseimbangan cahaya.
- Penggunaan lapisan hitam untuk mengontrol transparansi.
- Kolaborasi erat dengan tim produksi untuk hasil optimal.
Format IMAX dan Referensi Visual
Fraser juga mempertimbangkan bahwa film ini akan dirilis dalam format IMAX. “Kami sangat mempertimbangkan pilihan untuk syuting dengan kamera IMAX dan format lain.” Ia merujuk pada film-film klasik dari tahun 70-an dan 80-an seperti “Solaris,” “Alien,” dan “2001: A Space Odyssey” sebagai referensi visual untuk menentukan estetika film.
Sentuhan Analog dalam Presentasi
Lord dan Miller menginginkan nuansa analog dalam film ini. Fraser menjelaskan, “Kami terinspirasi oleh film-film seperti ‘ET: The Extra-Terrestrial’ dan ‘Close Encounters of the Third Kind,’ yang memiliki keunikan dalam kejelasan visual.” Hal ini memberi kesan lebih manusiawi dan mendalam pada film.
Pemilihan Kamera yang Tepat
Alexa 65 dipilih sebagai kamera utama karena kemampuan uniknya. “Ketika merekam dalam format IMAX, kami menghadapi batasan waktu rekaman yang hanya tiga menit. Suara yang dihasilkan juga keras, tetapi dengan penyesuaian pada helm Ryan, kami bisa mengatasi masalah tersebut.”
Tantangan Pencahayaan untuk Karakter Rocky
Setelah mempersiapkan kamera, Fraser menghadapi tantangan lain. Rocky hanya dapat diterangi dari depan, dan semua sumber pencahayaan harus berasal dari matahari, mengingat sisi terowongan tempat dia berada sangat gelap. Hal ini memerlukan perencanaan yang cermat untuk menciptakan suasana yang diinginkan tanpa mengorbankan integritas visual film.
Dengan pendekatan inovatif dan kolaboratif yang diterapkan oleh Fraser dan timnya, “Project Hail Mary” bukan hanya sebuah film, tetapi sebuah karya seni yang menantang cara kita memandang sinematografi. Teknik cinematography yang digunakan tidak hanya memperkuat narasi film, tetapi juga memberikan pengalaman visual yang tak terlupakan bagi penonton.
➡️ Baca Juga: Pemudik yang Melintas di Simpang Palimanan Mulai Turun – Video
➡️ Baca Juga: Jakarta Timur Mendominasi Panen Raya DKI dengan Total 423 Lokasi Strategis



