Kekeringan yang berkepanjangan telah menjadi momok bagi para petani di Kabupaten Lebak, Banten. Dalam sebulan terakhir, ratusan petani terpaksa meninggalkan lahan pertanian mereka dan beralih ke profesi lain demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Fenomena ini tidak hanya mengganggu hasil sawah, tetapi juga mengguncang mata pencaharian masyarakat yang mengandalkan pertanian sebagai sumber utama penghidupan.
Pergeseran Profesi di Tengah Kekeringan
Ruhiana, Ketua Kelompok Tani Sukabungah di Desa Tambakbaya, mengungkapkan bahwa sekitar 250 petani di wilayahnya telah beralih profesi akibat lahan pertanian mereka tidak bisa ditanami padi karena kekeringan. Hal ini terjadi setelah panen terakhir yang tidak mampu memberikan cadangan cukup untuk bertahan di tengah kondisi cuaca yang ekstrem.
“Mereka kini memilih untuk berdagang keliling, menjadi pedagang eceran di Pasar Rangkasbitung dan Pasar Semi Narimbang,” jelas Ruhiana. Pilihan ini diambil sebagai langkah adaptasi di tengah kekeringan hasil sawah yang tak kunjung reda.
Profesi Alternatif yang Dipilih
Selain berjualan, beberapa petani juga beralih menjadi buruh bangunan, buruh panggul, atau bahkan pengemudi ojek. Ada pula yang mencari nafkah dengan menambang pasir. Keputusan ini diambil karena mereka merasa tidak ada pilihan lain, mengingat hasil pertanian yang hilang akibat cuaca yang tidak mendukung.
Banyak di antara mereka yang berangkat ke daerah-daerah lain seperti Serang, Cilegon, Merak, Tangerang, dan Jakarta untuk mencari pekerjaan alternatif. “Kehidupan petani memang sudah biasa beradaptasi dengan perubahan iklim. Saat kemarau panjang datang, mereka terpaksa mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup,” tambah Ruhiana.
Dampak El Nino pada Pertanian
Udin, Ketua Kelompok Tani Blok Central Rangkasbitung, melaporkan bahwa sekitar 150 petani di wilayahnya juga terpaksa menghentikan aktivitas bertani akibat kekeringan yang disebabkan oleh fenomena El Nino. “Kami tidak bisa menggarap lahan yang biasanya subur karena kondisi tanah yang kering,” katanya.
Akibatnya, banyak petani yang beralih menjadi buruh bangunan di proyek-proyek pembangunan di Jakarta. “Kami pulang setiap pekan dengan membawa uang untuk keluarga,” ujarnya. Keterpaksaan ini mencerminkan betapa seriusnya masalah kekeringan yang dihadapi masyarakat petani di daerah tersebut.
Perubahan Sumber Pendapatan
Abdulraup, seorang petani dari Warunggunung, mengaku bahwa dirinya telah menjual bakso cuanki di Rangkasbitung selama tiga pekan terakhir. “Kami, bersama 30 petani lainnya, memutuskan untuk berjualan bakso cuanki dengan sistem komisi. Ini menjadi alternatif di tengah kekeringan yang membuat kami tidak bisa bertani,” ungkapnya.
Keputusan untuk beralih profesi ini tidak hanya berpengaruh pada pendapatan, tetapi juga pada pola hidup dan interaksi sosial mereka. Banyak petani yang sebelumnya terlibat dalam komunitas pertanian kini lebih sering berinteraksi dengan pedagang dan masyarakat kota.
Menyikapi Tantangan Kekeringan
Dodi Hermawan, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, menjelaskan bahwa fenomena kekeringan ini telah mendorong petani di berbagai kecamatan untuk beralih ke profesi lain. “Kami memperkirakan banyak petani yang akan beralih profesi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga selama masa kemarau,” ujarnya.
Namun, Dodi optimis bahwa setelah musim hujan tiba, para petani akan kembali menggeluti usaha pertanian mereka. “Kami akan terus mendukung mereka agar bisa kembali bertani dengan baik setelah kondisi cuaca membaik,” tambahnya.
Strategi untuk Menghadapi Kekeringan
Dalam menghadapi tantangan kekeringan hasil sawah, penting bagi para petani untuk memiliki strategi yang tepat. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:
- Meningkatkan pengetahuan tentang teknik pertanian yang tahan kekeringan.
- Memanfaatkan teknologi irigasi yang lebih efisien.
- Mengembangkan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.
- Berpartisipasi dalam program pelatihan dari pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat.
- Membangun jaringan dengan petani lain untuk berbagi informasi dan pengalaman.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan para petani dapat lebih siap menghadapi perubahan cuaca yang semakin tidak menentu.
Pentingnya Dukungan Pemerintah dan Masyarakat
Dukungan dari pemerintah sangatlah vital dalam mengatasi masalah kekeringan hasil sawah. Program-program bantuan yang dirancang untuk membantu petani harus diperkuat, terutama dalam memberikan akses terhadap sumber daya, pelatihan, dan teknologi pertanian yang lebih baik.
Selain itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya pertanian sebagai sektor vital juga perlu ditingkatkan. Masyarakat dapat berkontribusi dengan membeli produk lokal, sehingga mendukung perekonomian petani dan membantu mereka bertahan di tengah kesulitan.
Kesadaran Lingkungan dan Tindakan Kolektif
Kekeringan bukan hanya masalah petani, tetapi juga tantangan yang harus dihadapi bersama. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dan mengelola sumber daya air dengan bijak akan sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan pertanian. Tindakan kolektif dari semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga petani itu sendiri, diperlukan untuk menciptakan solusi yang efektif.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan ke depan petani dapat lebih tangguh dan mampu beradaptasi dengan perubahan iklim yang terjadi, sehingga kekeringan hasil sawah tidak lagi menjadi ancaman yang menakutkan.
➡️ Baca Juga: Erros Djarot Rayakan 52 Tahun Berkarya dalam Konser Nostalgia Badai Pasti Berlalu
➡️ Baca Juga: Mudik Gratis Jakarta 2026: Peserta Meningkat Signifikan Menjadi 33 Ribu, Naik 34 Persen
