PISA 2025: Kenaikan Skor Akademik Minim, Sekolah Masih Hadapi Masalah Perundungan

Jakarta – Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 tidak hanya mengungkapkan perubahan dalam skor akademik, tetapi juga mencerminkan kenyataan menyedihkan di lingkungan pendidikan. Laporan yang dirilis pada 8 September 2026 mencatat bahwa 24 persen pelajar di Indonesia mengalami perundungan (bullying) beberapa kali dalam sebulan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata negara anggota OECD yang berada di kisaran 20 persen. Fakta ini menjadi perhatian serius bagi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), yang menilai tingginya angka perundungan dapat mengancam kualitas ekosistem pendidikan di tingkat dasar dan menengah.

Urgensi Menciptakan Lingkungan Belajar yang Aman

Iman Zanatul Haeri, Kepala Bidang Advokasi P2G, menjelaskan bahwa situasi ini harus menjadi alarm bagi semua pihak yang terlibat dalam pendidikan. “Penting bagi institusi pendidikan untuk menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya aman, tetapi juga nyaman dan sehat,” ujarnya. Menurutnya, semua pemangku kepentingan—mulai dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, hingga dinas pendidikan—harus berupaya membangun sistem yang bebas dari segala bentuk kekerasan. Iklim keamanan menjadi landasan utama untuk mencapai pendidikan yang berkualitas.

“Bagaimana kita bisa berharap pada kualitas pendidikan yang baik jika siswa terus mengalami kekerasan dan tidak merasa aman di lingkungan belajar mereka?” tambah Iman. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, memiliki tanggung jawab untuk mendampingi sekolah dalam menciptakan ruang pendidikan yang menghargai perbedaan dan berkomitmen pada nol toleransi terhadap tindakan kekerasan.

Kenaikan Skor Akademik: Prestasi yang Terusik oleh Bullying

Kabar mengenai tingginya angka perundungan ini berlawanan dengan tren positif yang terlihat dalam sektor akademik pascapandemi. PISA 2025 melaporkan bahwa skor akademik Indonesia mengalami peningkatan, sementara rata-rata skor negara OECD justru mengalami penurunan di tiga aspek yang diuji (Matematika, Membaca, dan Sains). “Kenaikan skor ini menunjukkan upaya serius dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam memulihkan kualitas pembelajaran,” ungkap Kornas P2G, Satriwan Salim.

PISA 2025 mencatat bahwa skor Membaca Indonesia meningkat sebanyak tujuh poin, mencapai angka 365, sementara skor Sains melonjak enam poin menjadi 389. Meskipun demikian, skor Matematika mengalami penurunan dua poin, yang kini berada di angka 364. “Penting bagi pembelajaran di kelas untuk relevan dan dapat membangun kemampuan analitis siswa, agar mereka mampu menyelesaikan masalah nyata dengan pendekatan matematika,” jelas Satriwan.

Dukungan Guru: Antara Dedikasi dan Beban Kerja

Salah satu temuan penting dalam laporan PISA 2025 adalah tingginya dedikasi para guru di Indonesia. Sebanyak 85 persen guru melaporkan bahwa mereka terus mengajar hingga siswa memahami materi, jauh melampaui rata-rata OECD yang hanya 69 persen. “Guru berkomitmen untuk menjelaskan materi sampai seluruh siswa benar-benar paham, yang dapat mengurangi ketimpangan pemahaman di antara siswa,” kata Iman.

Akan tetapi, tingginya angka ini juga menciptakan paradoks. Jika siswa tidak mandiri dalam belajar, beban kerja guru akan semakin berat, karena mereka harus terus meluangkan waktu tambahan untuk membantu siswa. Iman mengingatkan bahwa tantangan bagi pemerintahan Prabowo Subianto tidak hanya menyelesaikan masalah perundungan di sekolah, tetapi juga mencapai target ambisius untuk skor PISA pada 2029, yang mencakup Membaca 409, Matematika 416, dan Sains 426, sesuai dengan amanat RPJMN 2025-2029.

Strategi Mengatasi Perundungan di Sekolah

Untuk mengatasi masalah perundungan yang mengkhawatirkan ini, sejumlah langkah strategis perlu diambil oleh pihak sekolah dan pemerintah. Berikut beberapa strategi yang dapat diimplementasikan:

Peran Pemangku Kepentingan dalam Mewujudkan Pendidikan Berkualitas

Kesuksesan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan berkualitas memerlukan peran aktif dari semua pemangku kepentingan. Selain pemerintah, guru, dan orang tua, siswa juga memiliki hak dan tanggung jawab untuk menjaga satu sama lain. Peningkatan kesadaran tentang pentingnya saling menghormati dan menghargai perbedaan harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan.

Selain itu, keterlibatan masyarakat juga penting dalam mendukung program-program yang bertujuan mengurangi perundungan. Komunitas yang peduli dapat berkontribusi melalui kegiatan sosialisasi, seminar, dan kampanye yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran tentang perundungan dan dampaknya. Dengan demikian, pendidikan yang lebih baik bisa terwujud.

Kesimpulan: Mewujudkan Masa Depan Pendidikan yang Lebih Baik

PISA 2025 menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan dalam skor akademik, tantangan besar masih mengintai dalam bentuk perundungan di sekolah. Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas, semua pihak harus bersinergi dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung. Hanya dengan kolaborasi yang kuat, kita dapat berharap bahwa pendidikan di Indonesia akan terus berkembang, membawa manfaat bagi generasi mendatang.

➡️ Baca Juga: Kasus Gadai SK 14 Anggota Satpol PP Kota Bogor, Tiga Anggota Terlapor Termasuk Kasubag

➡️ Baca Juga: Bilal Hasan Debut di UFC, Tantang Petarung Tak Terkalahkan di Shanghai

Exit mobile version