Jakarta – Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menandakan meningkatnya kehati-hatian di kalangan investor seiring dengan ketegangan yang semakin meningkat di Timur Tengah. Ketidakpastian yang terkait dengan situasi geopolitik ini mendorong para pelaku pasar untuk mengurangi eksposur mereka terhadap aset berisiko, termasuk saham-saham di pasar negara berkembang, seperti Indonesia.
Penyebab Tekanan pada IHSG
Analisis menunjukkan bahwa penyebab utama penurunan IHSG berasal dari dua sumber utama. Pertama, potensi ekspansi konflik dapat mengganggu pasokan energi global, yang pada gilirannya berpotensi meningkatkan harga minyak dan memicu inflasi. Hal ini dapat membatasi ruang untuk kebijakan moneter domestik dan memberikan tekanan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya.
Kedua, meningkatnya minat terhadap aset safe haven telah menyebabkan arus keluar modal asing dari pasar saham Indonesia. Penjualan saham oleh investor asing ini memperburuk tekanan pada IHSG dan meningkatkan volatilitas di pasar. Dengan ketegangan geopolitik yang masih berlanjut, pergerakan IHSG diperkirakan akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
Pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia
Pada perdagangan Senin (6/4), IHSG ditutup melemah sebanyak 37,35 poin atau sekitar 0,53 persen, berada pada posisi 6.989,43. Pelaku pasar menunjukkan sikap hati-hati dalam menanggapi perkembangan terkini terkait konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Indeks LQ45, yang mencakup 45 saham unggulan, juga turut mengalami penurunan dengan penurunan 6,82 poin atau 0,95 persen, sehingga berada pada level 707,76.
Sentimen Investor di Bursa Asia
Bursa Asia mengalami pergerakan yang bervariasi, dengan investor mulai bersikap lebih hati-hati terkait perkembangan di Timur Tengah. Menurut Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment di Pilarmas Investindo Sekuritas, investor cenderung mengawasi situasi ini dengan seksama.
Proses Diplomasi dan Gencatan Senjata
Dalam konteks konflik yang berlangsung, laporan menyebutkan bahwa AS, Iran, dan sejumlah mediator regional tengah merundingkan syarat untuk gencatan senjata selama 45 hari. Kesepakatan ini berpotensi membuka jalan menuju penyelesaian konflik yang lebih permanen dan stabil.
Pembicaraan ini muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, memberikan tenggat waktu baru bagi Iran dan meningkatkan ancaman terhadap infrastruktur sipil dan pembangkit listrik jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Situasi ini semakin memengaruhi persepsi risiko di pasar global.
Faktor Ekonomi Domestik yang Mempengaruhi IHSG
Di sisi domestik, IHSG juga merespons berita mengenai defisit anggaran Indonesia yang tercatat mencapai Rp240,1 triliun pada kuartal I-2026, setara dengan 0,93 persen dari PDB. Belanja pemerintah meningkat tajam sebesar 31,3 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp815 triliun, sedangkan pendapatan negara hanya naik 10,5 persen menjadi Rp574,9 triliun.
Rincian lebih lanjut menunjukkan bahwa penerimaan pajak telah memberikan kontribusi signifikan, mencapai Rp394,8 triliun, dengan kenaikan sebesar 20,7 persen. Namun, penerimaan dari kepabeanan dan cukai mengalami penurunan menjadi Rp67,9 triliun, turun 12,6 persen, sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga merosot sebesar 3 persen, mencapai Rp112,1 triliun.
Struktur Belanja Pemerintah
Belanja pemerintah terdiri dari belanja pusat yang mencapai Rp610,3 triliun, mengalami peningkatan signifikan sebesar 47,7 persen. Di sisi lain, transfer ke daerah tercatat sedikit menurun, yaitu sebesar Rp204,8 triliun atau turun 1,1 persen.
Kabar dari Pasar Modal
Pelaku pasar juga mencermati berita positif mengenai unit sovereign wealth fund Danantara yang baru saja menandatangani kesepakatan pada 1 April 2026. Kesepakatan ini melibatkan akuisisi unit manajemen investasi dari bank-bank BUMN, termasuk Bank Mandiri, BRI, dan BNI, serta PT Permodalan Nasional Madani, dengan nilai transaksi mencapai Rp2,7 triliun, meskipun masih menunggu persetujuan resmi.
Perkembangan IHSG Selama Perdagangan
IHSG dibuka dengan tren negatif dan terus berada di teritori merah selama sesi pertama perdagangan saham. Hingga penutupan sesi kedua, IHSG masih bertahan di zona merah, menunjukkan ketidakpastian yang melanda pasar.
Indeks Sektoral IDX-IC
Berdasarkan data dari Indeks Sektoral IDX-IC, terdapat empat sektor yang menunjukkan penguatan, dengan sektor barang konsumsi non-primer memimpin kenaikan sebesar 2,25 persen. Sektor barang baku dan sektor energi juga mencatatkan kenaikan masing-masing sebesar 1,29 persen dan 0,57 persen.
- Sektor barang konsumsi non-primer +2,25%
- Sektor barang baku +1,29%
- Sektor energi +0,57%
- Sektor properti +0,43%
- Sektor infrastruktur +0,25%
Dengan situasi yang bergejolak ini, investor diharapkan dapat tetap waspada dan mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi IHSG dalam waktu dekat. Keputusan investasi yang bijak sangat penting untuk menghadapi kondisi pasar yang tidak menentu.
➡️ Baca Juga: G7 Pertimbangkan Pelepasan Cadangan Minyak Strategis untuk Atasi Krisis Energi Global Pasca Penutupan Selat Hormuz
➡️ Baca Juga: Wabup Ali Perintahkan Pengecekan Kelayakan Bangunan Setelah Ambruknya Atap Blok 3 Pasar Soreang
